Mahasiswi Ahli Teknologi Laboratorium Kesehatan Poltekkes Kemenkes Makassar

Selasa, 17 September 2019

SISTEM GOLONGAN DARAH ABO


TUGAS MANDIRI I
Nama               : Ainan Dwi Lestari
NIM                : PO713203171003
Mata Kuliah    : Imuno-Hematologi
Dosen              : H. Kalma, S.Pd.,M.Si.

GOLONGAN DARAH

Sebelum tahun 1901, diperkirakan semua golongan darah adalah sama. Kondisi tersebut mendorong terjadinya reaksi transfusi yang fatal sampai menyebabkan kematian. Sampai pada tahun 1901, ditemukannya sistem golongan darah ABO oleh Karl Landstainer, seorang ilmuwan berkebangsaan Austria yang menyatakan bahwa setiap individu mempunyai karakteristik golongan darah yang dibedakan menjadi golongan darah grup A,B, dan O. Selanjutnya, pada tahun 1902, Alfred Decastello dan Adriana Sturli menemukan golongan darah AB, yang melengkapi sistem golongan darah ABO. Penemuan tersebut menunjukkan bahwa transfusi darah tidak boleh dilakukan pada dua orang dengan golongan darah berbeda. Istilah sistem golongan darah mengacu pada jenis antigen (Ag) yang terdapat pada sel darah merah yang spesifisitasnya ditentukan dari gen yang berada pada kromosom. Sedangkan Istilah jenis golongan darah mengacu pada spesifisitas hasil reaksi sel darah merah terhadap jenis antisera tertentu.

A.           ANTIGEN ABH PADA SISTEM GOLONGAN DARAH ABO
Sistem golongan darah ABO ditentukan oleh ada atau tidak adanya Ag A dan atau Ag B yang terekspresikan pada sel darah merah serta ada tidaknya antibodi (Ab) A dan atau B yang terdapat di dalam serum/ plasma. Sistem golongan darah ABO terdiri atas 4 golongan darah yaitu golongan darah A, B, AB dan O. Individu dengan golongan darah A, pada sel darah merahnya terdapat Ag A dan di plasmanya terdapat Ab B. Golongan darah B terdapat Ag B dan Ab A. Golongan darah AB, terdapat Ag AB dan tidak terdapat Ab A maupun B. Golongan darah O tidak mempunyai Ag A dan B, melainkan mempunyai Ab A dan B. Secara lengkap,penjabaran jenis golongan darah pada sistem ABO, dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 1. Sistem Golongan Darah ABO
No.
Jenis
Golongan Darah
Jenis Ag
Jenis Ab
Genotip
1
A
A
Anti-B
AA/ AO
2
B
B
Anti-A
BB/ BO
3
AB
A dan B
-
AB
4
O
-
Anti-A dan Anti-B
OO
Gambar 1. Ag Membran Sel Darah Merah

Antigen (Ag) pada sistem golongan darah ABO merupakan jenis Ag oligosakarida. Jenis Ag ini tidak hanya berada pada sel darah merah saja melainkan juga terdapat pada sel dan jaringan lain, seperti pada sel epitel paru serta cairan tubuh dalam bentuk Ag terlarut. Ag pada sistem ABO merupakan produk dari ekspresi gen H, gen ABO dan gen Se. Ketiga gen tersebut menentukan jenis, sifat dan letak Ag sistem ABO yang terekspresikan. Gen H berada di lokus H (FUT 1) pada kromosom 19. Gen tersebut mengkode fukosil transferase yang memproduksi Ag H pada sel darah merah. Ag H (Gambar 2) merupakan prekursor/ cikal bakal terbentuknya golongan darah ABO. Individu dengan antigen H mempunyai genotip HH dan Hh. Individu dengan genotip hh tidak mengkode fukosil transferase sehingga tidak memproduksi Ag H dan tidak bisa mengekspresikan Ag A dan B. Individu tersebut akan teridentifikasi sebagai golongan darah ‘O’ Bombay. Banyaknya Ag H pada sel darah merah yang diubah menjadi Ag A dan Ag B, tergantung pada enzim glikosil transferase yang disintesis dari gen ABO.
Gambar 2. Ag H
Gambar 3. Ag A

Gen ABO berada pada lokus di kromosom 9. Pada lokus tersebut terdapat alel A, B dan O. Alel A mengkode enzim N-acetyl-galactosaminyltrans-ferase yang menambahkan gugus gula N-acetyl-D-galactosamine (GalNac) pada Ag H sehingga terbentuk Ag A (Gambar 3). Alel B mengkode galactosyl transferase yang menambahkan gugus gula D-galactose (Gal) pada Ag H sehingga terbentuk Ag B (Gambar 4).
Gambar 4. Ag B
Gambar 5. Ag AB

Pada individu dengan golongan darah AB, maka enzim transferase yang diekspresikan menambah dua gugus gula yaitu GalNac dan Galaktosa (Gambar 5). Alel O tidak mengkode enzim fungsional tersebut, sehingga Ag H (Gambar 2) tidak berubah bentuk seperti pada individu golongan darah A, B dan AB. Golongan darah O pada individu dengan genotip HH dan Hh mempunyai Ag H dalam jumlah banyak dibandingkan pada individu golongan darah A, B dan AB.
Individu dengan genotip hh tidak memproduksi antigen H, sehingga tidak dapat memproduksi antigen A ataupun B. Individu dengan genotip hh disebut dengan golongan darah ‘O Bombay’. Jenis golongan darah ini mempunyai sifat seperti golongan darah O, karena mempunyai anti A dan B, akan tetapi golongan darah ini juga mempunyai anti H, yang tidak dipunya oleh individu dengan golongan darah O biasa. Individu dengan golongan darah O Bombay tidak menunjukkan gejala penyakit, namun ketika harus transfusi darah, maka individu tersebut harus mendapatkan darah dari golongan O Bombay juga. Jika individu tersebut mendapat darah dari golongan darah O biasa, maka akan terjadi reaksi transfusi hemolitik akut. Golongan darah O Bombay, seringkali dianggap sebagai golongan darah O biasa. Golongan darah O Bombay dapat diketahui dengan cara mereaksikan serum/ plasma dengan tes sel O.


B.            POLA PEWARISAN
Seperti diketahui, bahwa golongan darah ABO diturunkan dari orang tua. Jenis golongan darah ditentukan dari gen yang berasal dari kedua orang tua kita. Setiap anak mempunyai kombinasi gen dalam bentuk dua alel, yang berasal dari ayah dan ibu. Terdapat tiga jenis alel golongan darah ABO, yaitu : alel A, B dan O. Kombinasi dari tiga alel tersebut adalah OO; AO; BO; AB; AA; BB.
Tabel 2. Genotip ABO
Genotipe ABO pada Keturunannya
Alel ABO diwarisi dari Ibu
A
B
O
Alel ABO diwarisi dari Ayah
A
A
AB
A
B
AB
B
B
O
A
B
O

Gambar 6. Pola Pewarisan Golongan Darah ABO

Pada tabel 2 dapat dilihat bahwa anak golongan darah A, yang mempunyai genotip AA dan AO, mempunyai alel A yang diturunkan dari ayah atau ibu dan alel O yang diturunkan dari ayah atau ibu. Golongan darah B mempunyai genotip BB dan BO, yang mempunyai alel B yang berasal dari ayah/ ibu dan alel O yang berasal dari ayah/ ibu. Golongan darah AB yang mempunyai genotip AB, mempunyai alel A yang diturunkan dari ayah/ ibu dan alel B yang diturunkan dari ayah/ ibu. Jenis alel A dan B merupakan tipe kodominan, yaitu alel yang tidak mempengaruhi satu sama lain, sehingga diekspresikan secara bersamaan. Hal tersebut berbeda dengan alel O, jika alel O diekspresikan bersama dengan A atau B (heterozygot), maka alel O tidak terekspresikan, melainkan hanya alel A dan B saja. Alel O akan terekspresikan jika dalam bentuk homozygot, seperti pada golongan darah O, yang mempunyai genotip OO. Sebagai contoh, jika ayah mempunyai golongan darah A (genotip AO) dan ibu mempunyai golongan darah B (genotip BO), maka kemungkinan golongan darah anaknya adalah : A, B, O dan AB, seperti terlihat pada Gambar 6.

Sabtu, 29 September 2018

Pneumococcus sp.


Tugas Diskusi Kelompok
Mata Kuliah Bakteriologi II (T)
Dosen Pengampu : Mursalim, S.Pd.,M.Kes.


Bakteri Pneumococcus sp.




OLEH :
KELOMPOK 3 (TIGA)

Ainan Dwi Lestari
Ervi Anastasya
Jumriani
Mardiana
Nurfadillah Halim
Rifka Prisilia Kalua
Sitti Ratna
PO713203171003
PO713203171012
PO713203171021
PO713203171024
PO713203171030
PO713203171043
PO713203171049


PRODI D-III ANALIS KESEHATAN
POLITEKNIK KESEHATAN MAKASSAR
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
2018



Pneumococcus sp.

 
Pneumococcus, sebelumnya dikenal sebagai Diplococcus pneumoniae (seperti yang terjadi pada pasangan) sekarang disebut Streptococcus pneumoniae pada tahun 1974 karena berkaitan dengan Streptococcus (pertumbuhan rantai dalam media cair). Pneumokokus biasanya menghuni mukosa dari saluran pernapasan bagian atas yang merupakan jenis habitat alami dari bakteri ini. Orang dewasa yang sehat adalah pembawa (sekitar 40–70%) dari Pneumokokus. Sebagian besar penyakit Pneumokokus adalah infeksi endogen pada intinya dari mukosa saluran pernafasan pneumokokus menyerang pembawa pembawa dan menyebabkan penyakit.

A.      SEJARAH
Louis Pasteur dan George Sternberg secara independen menemukan Pneumococci pada tahun 1888. Namun, hubungan antara Pneumococci dan pneumonia ditemukan pada tahun 1886 oleh Fraenkel dan Weichselbaum. Organisme disebut sebagai Diplococcus pneumoniae karena penampilan cocci yang dipasangkan di apusan Gram yang diwarnai dari sputum. Namun, kemudian ditemukan bahwa organisme ini terkait dengan Streptococci seperti yang dijelaskan sebelumnya sehingga organisme itu diberi nama Streptococcus pneumoniae. Frederik Griffith pada tahun 1928 menunjukkan fenomena yang disebut "transformasi" di mana ia menyuntikkan campuran Strept yang tidak mematikan. pneumoniae dan membunuh Strept yang mematikan. pneumoniae pada tikus dan menemukan bahwa tikus mati karena infeksi dengan pneumokokus yang mematikan. Kemudian 1944) ditemukan bahwa DNA dari pneumococci yang terbunuh dalam campuran memasuki pneumococci yang tidak virulen dan mengubahnya menjadi pneumokokus yang mematikan. Fenomena ini diberi nama transformasi dan menandai awal genetika molekuler.

B.       KLASIFIKASI
Pneumococcus termasuk ke dalam bakteri kerajaan. Klasifikasi diberikan di bawah ini:
·           Kelas: Bacilli;
·           Order: Lactobacillales;
·           Keluarga: Streptococcaceae;
·           Genus: Streptococcus;
·           Spesies: Streptococcus pneumoniae;
·           Serotipe: I, II, III dan kelompok heterogen IV (Lebih dari 90 serotipe yang berbeda diakui dalam kelompok ini).

C.      MORFOLOGI
Pneumokokus adalah Gram-positif, sedikit memanjang, berbentuk oval ke diplococci berbentuk lonjong (0,5 dan 1,25 mikrometer diameter), biasanya terjadi pada pasangan atau rantai pendek yang dikelilingi oleh kapsul tebal. Salah satu ujung Pneumococcus luas dan ujung yang lain menunjuk memberikan bentuk lanset biasa. Ujung besar cocci dalam pasangan berada dalam aposisi dan sepasang cocci dikelilingi oleh kapsul besar. Kapsul ini paling jelas dalam apusan yang terbuat dari eksudat (sampel pasien), kapsul biasanya hilang dalam kultur.

D.      KULTUR
Pneumococci adalah organisme yang memilih-milih untuk tumbuh pada intinya mereka membutuhkan medium yang diperkaya (blood agar) untuk tumbuh. Suhu optimum untuk pertumbuhannya adalah 37°C (kisaran 25-42°C) dan pH 7,8. Pneumokokus tumbuh lebih baik di atmosfer dengan CO2 5-10% (piring kultur di simpan dalam stoples lilin dan diinkubasi).
Spesimen dibiakkan pada Agar Darah dan Agar Coklat dan piring diinkubasi seperti di atas. Piring diperiksa untuk pertumbuhan setelah 18 jam dan lebih. Koloni pada agar-agar darah adalah alpha -hemolytic, kubah berbentuk, lendir (halus, mengkilap). Mutan tanpa kapsul menghasilkan koloni dengan permukaan kasar (bentuk “R”). Halus (S) untuk Rough (R) variasi dapat terjadi pada kultur berulang.
Di bawah kondisi anaerobik koloni dapat dikelilingi oleh pembersihan medium, beta hemolisis (karena oksigen labil haemolysin) bukan perubahan warna hijau hemolisis alfa. Streptococcus pneumoniae adalah bakteri yang sangat rapuh, mengandung di dalamnya kemampuan enzimatik (autolysin-autolytic enzyme, Lyt A) untuk mengganggu dan menghancurkan sel-sel. Peran fisiologis dari autolysin ini adalah menyebabkan budaya mengalami autolysis karakteristik yang membunuh seluruh kultur ketika tumbuh ke fase diam. Garam empedu meningkatkan autolisis.
Blood Agar Plate menunjukkan alpha haemolysis (warna kehijauan) khas Pneumococci.
Sebagian besar isolat klinis pneumokokus menjalani lisis yang dimediasi oleh autolisin antara 18-24 jam setelah kultur dalam kondisi optimal. Autolisis mengubah karakter koloni dari morfologi masa stabil menjadi koloni dengan pusat lyse atau depresi.

E.       BIOKIMIA DAN KARASTERISTIK IDENTIFIKASI KHUSUS
Pneumococcus adalah anaerob aerotolerant dan memfermentasi banyak gula. Gula serum Hiss digunakan untuk reaksi fermentasi. Pneumococci menghidrolisis inulin dan tes ini digunakan untuk membedakan Pneumococci dari Streptococci. Pneumokokus adalah oksidase dan uji katalase negatif. Mereka tidak menampilkan protein M seperti Streptokokus lainnya. Karakteristik spesifik Pneumococci termasuk kelarutan empedu, sensitivitas optokin dan fenomena Quellung atau reaksi pembengkakan Kapsul.
1.         Uji Kelarutan Empedu
Menunjukkan pembersihan kekeruhan karena penghancuran Pneumococci.
Beberapa tetes larutan natrium deoksikolat 10% ditambahkan ke dalam 1 ml kultur pneumokokus semalaman. Pembersihan kultur kaldu terlihat dalam beberapa menit karena lisis pneumokokus. Metode lain untuk melakukan tes ini adalah dengan menempatkan larutan deoxycholate 10% pada kolobni pneumokokus pada agar darah, lisis koloni terlihat dalam beberapa menit. Tes ini digunakan untuk membedakan Pneumococci dari streptokokus alfa hemolitik lainnya seperti Streptococcus viridans.
2.         Uji Sensitivitas Optochin
Blood Agar Plate menunjukkan zona penghambatan pertumbuhan Pneumococcal sekitar disk optochin.
Disk optochin (5 mg ethylhydrocuprein hydrochloride) tersedia secara komersial. Piring darah agar diinokulasi dengan Pneumococci; disk ditempatkan di tengah piring dan diinkubasi dalam inkubator CO2 semalam. Piring diperiksa keesokan harinya dan zona inhibisi di sekitar cakram diukur. Zona penghambatan 15 mm atau lebih berarti organisme sensitif terhadap optochin. Tes membedakan Pneumococci dari streptokokus alpha hemolitik lainnya.
3.         Tes Quellung atau Reaksi Pembengkakan Kapsul
Blood Agar Plate menunjukkan alpha haemolysis (warna kehijauan) khas Pneumococci.
Tes ini dapat dilakukan pada spesimen seperti sputum atau di piring yang menunjukkan campuran organisme. Spesimen atau material dicampur dengan setetes antiserum polihardial Pneumokokus; smear dibuat dan diwarnai. Kapsul pneumokokus tampak bengkak. Cara lain untuk melakukan tes adalah mencampur satu loopful suspensi bakteri atau spesimen dengan satu loopful polyvalent atau jenis serum anti spesifik dan setetes larutan pewarnaan methylene blue. Campur ketiga dan periksa di bawah mikroskop. Kapsul bengkak yang sangat refrakil di sekitar Pneumococci akan terlihat di hadapan antiserum tertentu. Tes ini digunakan untuk mengidentifikasi dan serotipe Pneumococci.

F.       ANTIGEN
Struktur terluar adalah kapsul yang terbuat dari polisakarida. Polisakarida ini berdifusi ke medium dan ke dalam jaringan inang selama infeksi dan disebut “zat larut spesifik” atau “specific soluble substance” (SSS). Kapsul memainkan peran penting dalam virulensi. Atas dasar jenis Pneumococci polisakarida diklasifikasikan menjadi :
·           Tipe I;
·           Tipe II;
·           Tipe III;
·           Kelompok heterogen IV. Kelompok ini memiliki lebih dari 90 serotipe yang berbeda.
Antigen lainnya termasuk antigen karbohidrat "C" somatik dan nukleoprotein. Antigen "C" digunakan untuk mendeteksi protein C reaktif, beta globulin yang dibesarkan dalam serum pasien pneumonia dan penyakit lain di mana ada peradangan dan kerusakan jaringan.

G.      VIRULENSI DAN PATOGENISITAS
Pneumokokus biasanya ada di nasofaring manusia; mungkin menjadi invasif dan menyebar ke organ di sekitarnya seperti sinus, telinga tengah, saluran pernapasan dan meninges untuk menyebabkan infeksi pada organ-organ ini. Pneumococci menghasilkan beberapa racun lemah seperti haemolysin dan leucocidin yang tidak mematikan. Pneumococci menghasilkan racun jahat bernama pneumolysin. Pneumolysin merusak membran sel, bersifat sitotoksik dan dapat mengaktifkan komplemen. Ini dikombinasikan dengan sifat anti-fagositik dari polisakarida kapsuler; semua berkontribusi dalam patogenesis infeksi dan penyakit yang disebabkan oleh Pneumococci.
Autolysin Pneumococci lisis bakteri yang ada dalam jaringan dan produk bakteri yang dilepaskan pada lisis juga dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan dan dengan demikian dapat menyebabkan penyakit.
Jadi Anda melihat kapsul melindungi pneumokokus dari fagositosis dan merupakan penentu paling penting dari virulensi pneumokokus. Varian yang dienkapsulasi tidak mampu menyebabkan penyakit. Faktor virulensi potensial lainnya termasuk pneumolysin dan kemungkinan produk bakteri yang dilepaskan pada lisis bakteri sebagaimana telah diindikasikan.

H.      INFEKSI DAN PENYAKIT YANG DISEBABKAN OLEH STREPTOCOCCUS PNEUMONIAE
Ada faktor-faktor tertentu yang dapat mempengaruhi infeksi pneumokokus. Ini termasuk : penyakit kardiopulmoner primer, infeksi virus pernapasan primer (misalnya, influenza), pemusnahan limpa (splenektomi) dan/ atau beberapa defek sistem komplemen.
Pneumokokus dapat disebabkan oleh infeksi sederhana seperti sinusitis hingga jenis infeksi pneumokokus yang serius dan invasif (septikemia dan meningitis). Infeksi pernapasan termasuk pneumonia adalah hal yang paling sering disebabkan oleh pneumokokus.
Berbagai infeksi yang disebabkan oleh Pneumococci tercantum di bawah ini :
·           Sinusitis;
·           Otitis media
·           Mastoiditis;
·           Pneumonia lobaris;
·           Bronkopneumonia;
·           Eksaserbasi akut bronkitis kronis;
·           Infeksi sendi;
·           Endokarditis;
·           Meningitis;
·           Bactreamia;
·           Keracunan darah;
·           Abses dalam organ setelah septicemia;
·           Konjektivitis
Gejala umum infeksi pernafasan Pneumokokus adalah batuk, demam tinggi, kesulitan bernapas, napas cepat dan nyeri di daerah dada. Tanda-tanda termasuk sakit kepala, kelelahan, nyeri otot, mual dan muntah. Diagnosis laboratorium untuk Pneumokokus dan pengobatan harus dilakukan pada semua kasus infeksi Pneumococci yang dicurigai.

I.         DIAGNOSIS LABORATORIUM DAN IDENTIFIKASI PNEUMOCOCCI
Diagnosis klinis infeksi mudah; Namun, untuk memutuskan apakah infeksi disebabkan oleh Pneumokokus, kita harus melakukan diagnosis etiologi. Untuk tujuan ini, sampel yang tepat dikumpulkan dan diproses untuk mendeteksi Pneumococci. Diagnosis laboratorium infeksi pneumokokus :
·           Kumpulkan sampel yang sesuai dari dugaan kasus penyakit pneumokokus secara klinis;
·           Sampel yang tepat dalam infeksi pernapasan adalah dahak; otitis media-pus atau aspirasi dari telinga tengah; darah dalam kasus septikemia; CSF dari kasus meningitis dan sebagainya;
·           Lakukan pewarnaan gram pada preparat yang dibuat dari sampel;
·           Periksa apusan secara miskropkopis dan cari tipikal diplococci khas Lancet yang dikelilingi oleh kapsul tebal;
·           Lakukan tes aglutinasi slide dengan mencampur setetes CSF atau aspirat, dll. Dengan setetes antifum spesifik serotonipe spesifik dan/ atau lokal yang umum tersedia untuk mendeteksi keberadaan zat terlarut spesifik (SSS) dalam spesimen yang mengarah ke serotipe Pneumokokus menyebabkan infeksi dan pengobatan dapat segera dimulai;
·           Kultur sampel pada agar darah dan piring agar coklat, diinkubasi dalam 5-10% CO2, pada 37°C semalam (18 jam);
·           Periksa pelat untuk pertumbuhan, dalam kasus koloni khas Pneumococci yang dikelilingi oleh perubahan warna kehijauan karena hemolisis alfa akan terlihat seperti yang dijelaskan di atas;
·           Siapkan apusan dari piring, lakukan pewarnaan Gram dan periksa untuk diplokokus Gram positif yang khas;
·           Lakukan uji kelarutan empedu, uji sensitivitas optokin dan uji fermentasi inulin untuk memastikan identitas Streptococcus pneumonia;
·           Lakukan tes aglutinasi slide Lateks dengan mencampur setetes suspensi kultur dengan setetes anteferus spesifik serum atau anteroat spesifik serotipe lokal yang lazim membantu untuk memastikan serotipe infeksi penyebab pneumokokus;

J.        RESISTENSI
Pneumokokus sensitif terhadap panas (52 ° C) dan antiseptik yang biasa digunakan. Sulit untuk mempertahankan Pneumococci lama dalam budaya. Pneumokokus di laboratorium dapat dipertahankan oleh kultur pada agar darah semisolid dan oleh liofilisasi.

K.      EPIDEMIOLOGI DAN PENCEGAHAN PENYAKIT
1.         Epidemiologi
Reservoir Pneumococci adalah pembawa manusia yang sehat dan pasien yang menderita infeksi pneumokokus. Infeksi pneumokokus adalah endemik dan terjadi di semua musim, lebih sering pada usia ekstrem, pada orang tua dan anak kecil. Infeksi lebih umum selama wabah infeksi virus pernapasan seperti influenza. Pneumokokus menyebabkan infeksi sekunder pada pasien yang menderita influenza. Wabah pneumonia pneumokokus dapat terjadi di komunitas yang padat dan tertutup.
Insiden infeksi juga tergantung pada serotipe umum dari Pneumococcus. Tipe 3 adalah yang paling ganas sehingga jika lazim di masyarakat maka mungkin ada lebih banyak infeksi.
2.         Pencegahan Penyakit
Vaksin pneumokokus digunakan untuk pencegahan infeksi pneumokokus pada usia ekstrem; individu dengan penyakit paru-paru, jantung dan ginjal kronis; individu dengan penyakit limpa non-disfungsional, penyakit celiac dan sebagainya. Dua jenis vaksin pneumokokus tersedia dan digunakan. Ini adalah vaksin pneumokokus polisakarida dan konjugasi.
Vaksin polisakarida yang dimurnikan (PPV 23) adalah vaksin 23 valen yang mengandung serotipe - 1, 2, 3, 4, 5, 6B, 7F, 8, 9N, 9V, 10A, 11A, 12F, 14, 15B, 17F, 18C , 19F, 19A, 20, 22F, 23F, 33F. Vaksin ini kurang imunogenik pada anak-anak di bawah usia 2 tahun, memiliki memori kekebalan yang rendah, tidak mengurangi kereta nasofaring dan tidak memberikan kekebalan kawanan. Khasiatnya sekitar 70% hanya pada populasi berisiko tinggi. Dosisnya adalah 0,5 ml diberikan secara subkutan atau intramuskular. Vaksin aman dengan efek samping lokal sesekali.
Untuk meningkatkan imunogenisitas dan kemanjuran vaksin polisakarida konjugat vaksin pneumokokus (PCV) dikembangkan oleh konjugasi Polisakarida pneumokokus dengan protein yang berbeda.

PEMERIKSAAN SERUM GLUTAMIC PYRUVIC TRANSAMINASE (SGPT) KIMIA KLINIK

Nama                : Ainan Dwi Lestari NIM                 : PO.71.3.203.17.1.003 Prodi                : D-III Teknologi Laboratoriu...